20111023

Selasa, 17 Maret 2009

TOKOH SAMARINDA

KH. Abul Hasan

oleh : H. Akhmad Zailani

BAGI warga Samarinda khususnya, pasti kenal jalan KH. Abul Hasan, yang berada di pusat kota. Namun sedikit sekali yang tahu, siapa sih KH Abul Hasan itu? Kiai Abul Hasan itu dulunya lama menetap di Samarinda. Samarinda--yang kini lebih dikenal Samarinda kota--yang didirikan oleh orang Banjar (Samarinda Seberang oleh orang Bugis). Peran dan pengaruh ulama-ulama ini terhadap perkembangan atau terbentuknya Samarinda kota sangat besar. Memang, di Samarinda banyak sekali ulama, selain KH Abul Hasan, juga ada KH Khalik, KH Jafar Sabran, KH Abdullah Marisi, KH Abdur Rasyid, KH Abdul Galib Karim, KH Ahmad Yusran, KH Muchlis, KH Zainal (bergelar Mas Temenunggung, ayah dari KH Muhammad Khalik) dan banyak lagi ulama-ulama terkenal lainnya yang bermukim yang sekarang di Samarinda kota. Jauh sebelum keberadaan para ulama tersebut, orang Banjar-sejak Kerajaan Banjar, telah bermukim dan mendirikan wilayah yang dikenal Samarinda kota sekarang ini. Para perantau dari Banjar umumnya bermukim di sekitar Sungai Karang Mumus dan Sungai Mahakam, dekat masjid Raya sekarang. Orang Banjar inilah dulunya yang mendirikan Samarinda, yang kini termasuk wilayah Samarinda kota.
Kembali ke kiai Abul Hasan. Beliau dilahirkan pada tahun 1858 di Sungai Durian, Amuntai Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan. Pada masa mudanya, ia rajin mengikuti pengajian-pengajian yang diadakan di kota Amuntai (pada masa itu madrasah belum didirikan). Pada usia 23 tahun, ia bersama kedua orang tuanya pergi ke tanah suci Mekkah untuk menunaikan ibadah haji. Sepulang dari Mekkah, ia berhijrah ke daerah hulu kutai dan menetap di Muara Kedang/Bongan.
Di tempat tinggalnya yang baru, selain mengadakan pengajian-pengajian, baik di rumahnya atau pun di tempat-tempat lainnya seperti langgar, masjid dan majelis-majelis taklim, ia juga pandai dan ahli dalam bercocok tanam dan berkebun, kemudian hasilnya ia jual dari Bongan ke kota Samarinda.
Pada tahun 1920 ia pindah ke Kota Samarinda, dan menetap di Gang Haji, pengajian-pengajian juga tetap dilakukan, tidak saja di ibukota Samarinda, tetapi juga hingga sampai Muara Badak Kutai Kartanegara. Di Muara Badak ia juga mempunyai banyak tanaman pohon kelapa dan tanaman lada. Sehingga sambil berdakwah ia juga selalu berusaha bercocok tanam untuk menghidupi keperluan keluarganya.
Dalam waktu yang singkat ia telah dipercaya menjadi pembantu terdekat (asisten pribadi) dari KH Abdul Khalid, sehingga pada tahun 1924 M, ketika penggantian penghulu, KH Abdul Hasan diangkat sebagai penghulu ketiga dan sekaligus qadhi pada laandrad kota Samarinda menggantikan jabatan KH Abdul Khalid (penghulu kedua).
Pada tahun 1926 M, atas prakarsanya dan dibantu oleh KH Abdullah Marisi ia mendirikan Masrasah Ahlusunnah School, yang mendapat sambutan hangat dari masyarakat. Selama enam tahun ia menjabat penghulu dan qadhi untuk wilayah Samarinda, ia kemudia tergerak hatinya untk menambah dan memperdalam ilmu yang telah ia miliki ke tanah suci Mekkah. Sehingga pada tahun 1930 ia bersama seluruh keluarganya berangkat ke Tanah Suci Mekkah untuk berhaji sekaligus menuntut ilmu. Sebelum ia berangkat untuk menunaikan ibadah haji dan menimba ilmu pengetahuan ke tanah suci Mekkah, ia menyarankan kepada pemerintah yang berkuasa saat itu, agar jabatan penghulu dan qadhi dapat diserahkan kepada KH Abdullah Marisi, dan ternyata pemerintah pun menyetujuinya. Akhirnya jabatan penghulu yang keempat diserahkan kepada KH Abdullah Marisie.
Pada tahun 1931, Samarinda mengalami musibah kebakaran besar, maka mengetahui hal ini ia kemudian pulang ke tanah air untuk menjenguk keluarga yang terkena musibah tersebut. Tiga tahun kemudian tepatnya pada tahun 1934, ia kembali lagi ke tanah suci Mekkah, untuk menunaikan ibadah haji dan meneruskan menggali ilmu ke sumbernya. Setibanya di Mekkah, ia menderita sakit, dan juga karena usianya terlalu tua, maka beliau wafat di Mekkah, dalam usia sekitar 85 tahun. Seluruh keluarga kembali ke tanah air, sedangkan puetranya Haji Abdurasyid tetap meneruskan belajarnya memperdalam ilmu agama. Q

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar